Dewi Suma

Seorang mahasiswi di Universitas Diponegoro.

Ketika Workshop Elektronika Dasar

Foto di ruang workshop ketika acara Workshop Elektronika Dasar 2014

Bersama peserta LKMM Pra Dasar INSEL 2014

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Bersama Kakak dan Adik-adik

Berenang di Lakers BSB Semarang

Ketika MURDA Pemilihan Ketua HMIE

Finalis Calon Ketua HMIE 2014

Senin, 15 Juli 2013

UM - Anime Mode : On!

Hai, apa kabar?

Kemarin, Minggu, 14 Juli 2013 saya tes Ujian Mandiri DIII Universitas Diponegoro. Adakah dari kalian yang ikutan UM DIII Undip juga? Ambil prodi apa? Kalau saya sih pilihan pertama Instrumentasi dan Elektronika, kemudian pilihan kedua adalah Teknik Elektro. Sama kah? Haik, semoga kita bisa diterima yah! :D

Mengapa saya menulis ini, karena tiba-tiba saya berpikir keadaan saya sekarang. Ditengah-tengah ketika saya sedang belajar untuk menghadapi UM, saya istirahat sejenak dan terlintas sesuatu. Entah mengapa saya tiba-tiba memikirkan keadaan saya seperti di anime. Sungguh. Karena sedang suka-sukanya dan sering nonton anime akhir-akhir ini kali ya? Jadi terbawa ke dunia anime gitu. Kemudian ketemu Hiruma-san, Yoshi-san, Eita-san, Akihisa-kun, Yuuji-kun, dkk. Haha

Jadi gini, saya kan ingin masuk Undip tuh, dengan keadaan saya yang hari minggu mau tes itu, saya berpikiran seperti ini kemarin malam.

Saya seperti sedang terikat di sebuah tembok. Iya, sebuah tembok. Aneh kan? Masa terikat di tembok? Ya anggap aja saya di plester pakai lakban gitu, jadi nempel di tembok gitu deh. Nah, itu yang saya anggap keadaan saya yang sedang belajar ini. Saya melihat di depan saya, terdapat sebuah jas alamamanter yang tersangkut pada sebuah ranting pohon dan tertiup oleh angin sedang melambai-lambai ke arah saya. Saya terikat di tembok sambil berusaha melepaskan diri untuk meraih alamamanter biru khas Undip yang sangat saya inginkan itu. Woh, ekspresi macam tokoh anime yang ingin melepaskan diri dari ikatan gitu deh pokoknya.

Kemudian tiba-tiba saya dapat melepaskan diri dan langsung berlari kencang untuk meraih jas almamanter Undip tersebut. Nah, saya anggap itu ketika saya sedang melaksanakan tes UM di Undip.

Kemudian semakin lama semakin lambat saya berlari. Lho? Kenapa semakin lambat? Yaiyalah, kalau kencang terus selain capek, entar malah kelewatan tuh almamanternya. Sambil mengulurkan tangan kanan saya berlari mendekati alamanter tersebut. Nah ini, saya anggap ketika saya sedang menunggu pengumuman UM Undip pada tanggal 18 Juli 2013. Cepat yah?

Lalu finalnya, ini ada dua. Kalau saya diterima di Undip yang saya bayangkan seperti ini, saya dapat meraih almamanter Undip tersebut, memeluknya dan penuh perasaan, dan membacakan surat Al-Fatihah, Shalawat, dan ayat kursi. Iya, entah mengapa justru itu yang saya bacakan ketika saya memeluk almamanter tersebut. Religious abis! Tetapi nih ya, kalau memang beneran saya diterima, saya bakalan melakukan seperti itu. Serius. Nggak salah kan? Kemudian saya mulai mengenakannya dan terlihat dari belakang, saya berkata “saya anak Undip” dengan penuh kebanggaan kawan-kawan! Semoga itu dapat terjadi. Amin!

Tetapi, apabila saya tidak diterima (haih -__-), yang saya bayangkan adalah setelah berhari-berhari berlari kencang untuk meraih almamanter (menunggu pengumuman), ketika saya memperlambat langkah kaki saya ketika berlari, dan tangan kanan saya sudah menyentuh almamanter tersebut tiba-tiba almamanter tersebut terbang tertiup oleh angin dan saya tertarik kebelakang menuju kegelapan sambil mengulurkan kedua tangan saya dan berteriak “tidaaakkk!!!” sambil menutup mata. Dan ketika saya membuka mata, saya terikat kembali di tembok sambil meneteskan air mata. Sedih memang.

Lalu muncullah wajah-wajah yang tak asing bagi saya. Wajah-wajah keluarga dan teman-teman yang sudah diterima di PTN. Ada wajah papa yang sedih dan berkata “papa kecewa sama kamu”, kemudian mama yang berkata “kamu gimana kok berulang kali tidak diterima?”, kakak yang berkata “gimana? Kok nggak lolos lagi?”, teman-teman yang tertawa dan berkata “haha, dasar bodoh! Berulang kali tidak lolos” , “kasihan deh kamu belum dapat PTN” , “selamat datang pengangguran” , “masuk swasta saja sana” , dan lain-lain. 

Sungguh, ini beban, ini menyebalkan. Wajah-wajah mereka berputar-putar mengelilingi saya yang sedang sedih terikat kembali. Saya hanya menundukkan kepala dan meneteskan air mata. Saya hanya berkata dalam hati “mengapa seperti ini? mengapa beban ini tidak kunjung pergi dan mendatangkan kebahagiaan? Aku sangat ingin masuk PTN. Berulang kali aku tidak lolos PTN dan mengahabiskan banyak uang tetapi aku korbankan hanya sia-sia. Apakah Allah tidak mendengar doa saya? Apakah Allah tidak melihat usaha saya selama ini? Tidak, aku yakin Allah mendengar dan mengetahuinya. Allah pasti mempunyai rencana lain yang lebih baik untuk saya. Saya selalu berpikir poisitif, saya selalu yakin dan percaya itu. Tetapi, apakah akan tetap seperti ini? Berulang kali gagal untuk meraih PTN dan hanya mendapatkan PTS? Mengapa? Apakah saya tidak pantas? Atau memang takdir? Bukankah takdir ini bisa diubah dengan usaha dan doa? Atau memang mutlak? Tidak mungkin.

Pandangan mata saya pun hanya kosong ke arah bawah. Mata saya mulai berkaca-kaca. (terdengar lagu Ost. Gunslinger Girl – Woke From Dreaming). Air mata pun mulai menetes ke lantai. Saya berkata “maafkan saya, walaupun saya berulang kali gagal, tetapi saya masih sangat pantas untuk terus mencoba meraih apa yang saya ingin selama ini”. Saya mengangkat wajah ke depan dan berkata “saya pasti berhasil nanti, percayalah” dengan ekspresi wajah penuh keyakinan dan kepercaya dirian. Kemudian wajah-wajah yang mengganggu saya tersebut mulai pecah satu-persatu dan menghilang meninggalkan saya sendiri.
Pikiran saya mulai kosong dan mulai menjauh, jauh, jauh, saya yang sedang terikat mulai bertambah kecil, kecil, kecil dan hilang. Hitam, gelap.

Saya pun mulai sadar dan dan membuka mata. Saya melihat ke arah laptop dan melihat latihan soal Ujian Mandiri. Karena penglihatan saya sudah mulai tidak fokus, jadi saya memutuskan untuk mematikan laptop dan tidur sambil memeluk buku catatan saya. FYI, selama 3 hari berturut-turut saya selalu tidur bersama buku-buku, kertas-kertas, alat tulis, tas, laptop, ponsel-ponsel, headphone, earphone, dan bantal-guling-selimut yang tak beraturan. Namun, aku menikmatinya.

Salam sukses,

Dewi S Pratiwi

Kamis, 11 Juli 2013

Adakah yang ikut SPMU?

Hai, apa kabar?
Gimana nih yang baru lulus SMA/SMK/MA? Lanjut apa? Kuliah, bekerja, atau istirahat? Kalau saya sih inginnya melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi belum dapat nih, belum bisa masuk ke perguruan tinggi negeri yang aku tuju. Kalau kamu yang seperti saya (melanjutkan ke perguruan tinggi) sudah diterima dimana? Prodi apa? Atau jangan-jangan masih sama seperti saya? Haha. Keep spirit yak J
Jujur aja nih ya, sebenarnya saya sudah menyiapkan delapan jalur untuk bisa bisa masuk ke perguruan tinggi yang saya tuju, dan udah ada yang dijalanin tapi belum beruntung, ada yang tidak jadi, ada juga yang masih ngambang. Mau tau? Nih tabelnya
No
Jalur
Perguruan Tinggi
Program Studi
Keterangan
1
SNMPTN
Universitas Diponegoro
Teknik Geologi
TIDAK LOLOS



Teknik Geodesi



Univesitas Sebelas Maret
Teknik Informatika




Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota






2
PSB
Politeknik Negeri Semarang
Keuangan dan Perbankan
TIDAK LOLOS
3
SPA
Politeknik Negeri Semarang
Teknik Informatika
Hampir diterima di Teknik Konversi Energi jadi tidak diambil





4
UMPN
Politeknik Negeri Semarang
Teknik Informatika
TIDAK LOLOS



Teknik Telekomunikasi




Teknik Konversi Energi






5
SBMPTN
Universitas Diponegoro
Teknik Geodesi
TIDAK LOLOS



Teknik Geologi



Universitas Sebelas Maret
Hubungan Internasional






6
UM
Politeknik Negeri Semarang
Teknik Informatika
Tidak jadi karena tes bersamaan dengan UM Undip








Teknik Telekomunikasi

7
UM
Universitas Diponegoro
Teknik Geodesi
Tidak jadi karena berubah pikiran



Hubungan Internasional









Teknik Geologi

8
SPMU
Universitas Negeri Semarang
Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer
Ngamabang (menunggu tes pada tanggal 21 Juli)



Kesehatan Masyarakat


Yak itu dia. Doakan saya bisa lolos SPMU yaa, please~. Hehe
Adakah dari kalian yang ikutan SPMU juga? Kalau iya, mari kita berjuang yah haha. Ambil prodi apa? Semoga bisa ketemu di sana nyak haha
Saya nggak malu kok memberitahukan secara umum saya mendaftar dimana dan berulang kali tidak lolos. Untuk apa malu? Memang kalau berulang kali tidak lolos jadi terlihat bodoh begitu? Ah, nggak juga. Kita hanya kurang beruntung kok. Positive thinking aja :D
Saya sadar, dari prodi dan perguruan tinggi negeri yang saya pilih di atas memang cukup ketat persaingannya, dan walaupun saya berulang kali tidak lolos saya tetap mengikuti pendaftaran ke perguruan tinggi negeri yang ingin saya tuju. Walaupun jalur yang terakhir ini (jalur nomor 8) sedikit berbeda dari yang lain, saya tidak merendahkan atau menganggap mudah atau istilahnya itu “halah, terserah deh yang penting bisa diterima”, tetapi ini saya pilih karena saya berpikir, dari beberapa prodi dan perguruan tinggi yang yang pilih pada beberapa jalur sebelumnya, saya ingin mengambil prodi yang pernah disarankan oleh kedua orang tua saya. Di jalur sebelumnya itu merupakan pilihan saya sendiri atas ego dan pemikiran saya sendiri. Jadi, justru saya menambah semangat dan motivasi saya untuk bisa lolos SPMU. Saya ingin banget dan ngebet banget ingin masuk UNNES! Pokoknya UNNES! Bukan karena jalur yang terakhir, masih ada kok rencana lain agar bisa masuk perguruan tinggi yang tuju. Tapi masih rahasia dong ya haha. Pokoknya, semoga pada hari Minggu, 21 Juli 2013 saya diberikan kemudahan dalam mengerjakan tes, dan bisa lolos. Amin!
Adakah yang ikut SPMU? Comment yah J